aku masih sempat menyanyikan lagumu. naif, seperti kita. ku ulang-ulang kata-katamu, kemarin dan hari ini. mungkin tak akan ada lagi wajahmu. mungkin tak akan ada lagi wajahku. di matamu yang seperti cahaya. saat angin menyentuh daun, begitu deras, mengeringkan sisa embun dalam kenanganku.
tetapi kamu masih membiarkan segalanya menggantung, seperti subuh yang abadi. meletakkanku pada jalan-jalan basah, di tengah kesegaran cinta dan dunia. “Jangan menangis, aku hanya tidur,” katamu lirih, setiap kali keramaian tak dapat menyentuh kita.
dimana engkau, dimana aku. tak ada ruang dan waktu untuk saling meniadakan. sebab kapan saja dan dimana pun kau berada, aku masih dapat terus membacamu, dalam kenanganku. dan lewat kenanganku, kau akan masuk berulangkali: menyamarkan luka-luka sepanjang hidupku.
kupu-kupu dalam kepalaku tak ingin terbang
tak seperti kupu-kupu di kepala mereka
; kepalaku kepompong yang hangat
kupu-kupuku tak ingin merajut sayap
membeku dan mengumpul jadi sengat
di kepala,
bergerombol seperti ingin jadi rengat
ma, pecahkan kepalaku!
agar kupu-kupuku terbang
seperti yang lain
: rajutkan sayap-sayap kecil,
dan jahitkan pada punggungnya!
berikan pedih agar lekas besar
tumbuhkan bulu-bulu perasa
hingga tahu tentang cuaca dan hawa
ketika terlepas,
di atas daun hijau atau putik bunga
di malam hari saat kepalaku memburai
aku terhanyut engkau berkali-kali
lumpur kering yang retak
tempat mekar mawar merah mudamu, ayah
muasal cinta,
lembab. geliat tak kasat. pekat
ruang mengikatku begitu dalam
memikat! ketika tiba-tiba Kala mencuat
ini cinta? tapi hanya yang senyap berdiam
apa ayah tahu?
cinta kuberikan sebagai perawan
waktu menghantu di sudut-sudut pintu
lonceng gereja menghentikanku untuk bepergian
dan katamu, bercintalah dengan ibu!
sebelum haid dan akil baliq
sebelum kenal luka dan tahu dosa
apakah luka dan cinta bermula dari sana?
1
tak ada apa-apa pagi ini
itu saja yang bisa kukatakan kepadamu
jangan paksa, sebab tak ada apa-apa
lantai begitu dingin, aku enggan berjalan-jalan
salahnya, kita samasama memilih mengikis ingatan—sampai habis
2
kamu boleh lupa
tapi kita adalah satu silsilah dalam keluarga,
ingatkah sepenggal cerita yang kutulis di belakang pintu:
kubelikan eskrim yang penuh krim, kau mau?
bersama seorang babu—yang sintal—yang sepenuhnya tak kukenal
tak kaukenal
kumasuki babumu di belakang pintu karena aku adalah hantu
kumasuki babumu, ibumu, kamu
kumasuki babumu yang lain, ibumu yang lain, kamu yang lain
tak kukenali waktu dan terus berubah menjadi bayang-bayang
seperti seseorang. yang sepenuhnya akan kau kenal
kau menyebutku ayah. tak apa jika akan kau cintai aku dengan payah
karena aku adalah hantu
yang mengikuti semau waktu yang ada di telapak kakimu
3
ceritakan kepadaku tentang apa yang tak bisa diingat dan disesap
karena aku adalah yang sesaat, yang sekejap
aku menangis.
semua orang tau itu. tapi mereka nggak tau sejak kapan, dan sampai kapan.
aku saja nggak tau.
mungkin sejak laki-laki itu pergi, mungkin sejak laki-laki itu kembali.
dulu ia begitu mengganggu. tapi kepergiannya ternyata lebih mengganggu.
aku keliru.
aku tak bisa tidur. tak ada acara yang menghibur.
parahnya, aku tak bisa menuliskannya.
diariku kosong.
kosong…
I
cast: sebagai matahari
ketika kaupegang tanganku, dalam hujan dan aku menangis,
palu itu terus memukul kepalaku, dengan dengung terus menggaung di telingaku.
kau begitu yakin aku mampu menjadi matahari. besok, pasti baik aku ataupun kau
pergi sebelum pagi. aku melihatmu sebagai bintang di malam kemarin. kita tak
ketemu lagi, nanti
dalam ramai. sama mengulang kembali, kosong. pada lubang
yang menggerogoti mati hati. dan bicara kadang tak pernah sempurna. aku luput
memaknaimu. sebuah peran dipilih sebagai bintang dan matahari
sampai hujan terus membuat pelangi. aku tak ingin menjadi
matahari
II
cast: sebagai bintang
ketika daun-daun subuh luluh mengetuk-ngetuk jendelamu, aku
menyelinap dalam gemetarmu. gema itu terus memaksa mempurukkan kepalaku di
dadamu. hingga puting susumu yang kecil menelesapkan gelisahmu yang dalam ke
mulutku. kejora.
tak pasti apakah bisa kuberikan seluruh cahaya yang kumiliki
sebelum pagi. aku hanya kepingin melihat matahari. dan aku mati. bintang kehilangan
terang
sementara hujan membuat pelangi. aku tetap memandangmu
sebagai matahari
Jogja, 2005 —(by:
hindra)
…ketika aku tak lagi bisa membaca. Seseorang yang datang, seseorang yang pergi, seseorang yang pernah singgah, telah diam-diam menuliskan bacaannya di buku harianku…
Kepada Kekasih
kekasih,
biarkan gerimis
menjadi hujan
tak apa, kan?
jangan memaksa,
bisa-bisa buat kita binasa
mendekatlah kemari,
kuajak kamu menari
diantara ikan-ikan koki dan anyir
sambil sesekali
mencercap gerimis di ujung bibir
sampai rembulan yang
bengong tergoreng matahari
; sebab kalisaja besok pagi
tak ada yang benar-benar abadi
(saat usai dan lampu-lampu rumah mulai mati)
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah singgah)
(Sorry. Puisi Terlalu Pagi Buat Ia yang
Merah Hati)
seperti kemarin pagi
ia yang merah hati mengajak
mataku berenang-renang dengan kenang
sementara aku
meringkuk kaku dipinggir gunting kuku
pagi merah
—yang meringis merah-mengiris
biru-mengiris bisu
; tergores merah di
sudut tulang iga. dekat hati. lebih dekat lagi.
seperti kemarin pagi
—yang merah-yang
berkaca-kaca-yang pecah-pecah-yang mencair-yang mengalir
ia yang merah hati menyanyikan
lagu-lagu
menyihir merah
menelikung ragu-ragu
memeluk sendu seperti
lusinan tahun yang lalu
; hingga tadi pagi aku
mendesau pada angin
hpku tak mau dingin
karena kamu lah mula
dari segala ingin
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah pergi)
Gadis yang Luka
apakabar, gadis yang
luka,
aku ingat kamu tiba-tiba,
sekejap, seperti
kilatan lampu kamera
—yang tak pernah
berhasil mengabadikan kita
aku ingat kamu tiba-tiba,
sesaat, seperti lagu
lama
—yang tak pernah
berhasil menawan kita
tapi apa ingatan yang
sekejap bisa dipercaya:
untuk menciummu
apa ingatan yang sesaat bisa dipercaya:
untuk mencintaimu
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah datang)
ngobrol
:setya
rini
saat
huruf-huruf dan tanda baca berloncatan meruangi kepala.
kamu
sedang bernyanyi
kata-kata
bertanggalan satu-satu tak ada yang pecah atau patah
sempurna
menyelusup di bibirmu.
malam
terangkai rapi menjadi deretan kalimatku-kalimatmu.
jarum
jam dinding berubah berbalik arah saat hendak kubanting.
sebentar
kemudian di dapur itu
segelas
air mancur dari pergelangan tanganmu lalu nafasmu menabur puisi di beranda
kutunggu
pagi tumbuh di mataku-di matamu.
siapa
yang duluan menjadi matahari?
Jogja,
Okt 2006, —-(by: Andy SW)
…trims ya Ndi, akhirnya dengan semangat kita bertiga newsletter skAnA udah bisa seperti sekarang. Edisi 07 euy, dan bentar lagi kita bikin yang online. Yuhuu..!
Jadi inget wara-wiri yang kamu, aku, dan Mamad lakukan di sesela malam dan liputan. Ya, makasih juga sama vespa bututmu itu. Hehe..
…dan puisimu ini kamu bikin saat pertama kalinya kita ngobrol di beranda. Yang lalu kamu berikan pagi-pagi. Awal percakapan dan perdebatan kita yang terus berlanjut. Haha.. Sip Ndi, trims atas kerjasamanya, kamu rekan kerja yang ulung. Sampai ketemu di meja redaksi ya, Bung! Semangat yaw… Jaga diri baik-baik ya… Bravo!
(akhir-akhir ini aku lagi seneng sama yang glumi-glumi…mak nyeeeees rasanya di hati..)
Sunday is gloomy
My hours are slumberless
Dearest the shadows
I live with are numberless
Little white flowers
Will never awaken you
Not where the black coach
Of sorrow has taken you
Angels have no thought
Of ever returning you
Would they be angry
If I thought of joining you
Gloomy Sunday…
Sunday is gloomy
With shadows I spend it all
My heart and I have decided
To end it all
Soon there’ll be flowers and prayers
That are said I know
But let them not weep
Let them know
That I’m glad to go
Death is no dream
For in death I’m caressing you
With the last breath of my soul
I’ll be blessing you
Gloomy Sunday…
Dreaming
I was only dreaming
I wake and I find you asleep
In the deep of my heart dear
Darling I hope
That my dream never haunted you
My heart is telling you
How much I wanted you
Gloomy Sunday…