…ketika aku tak lagi bisa membaca. Seseorang yang datang, seseorang yang pergi, seseorang yang pernah singgah, telah diam-diam menuliskan bacaannya di buku harianku…
Kepada Kekasih
kekasih,
biarkan gerimis
menjadi hujan
tak apa, kan?
jangan memaksa,
bisa-bisa buat kita binasa
mendekatlah kemari,
kuajak kamu menari
diantara ikan-ikan koki dan anyir
sambil sesekali
mencercap gerimis di ujung bibir
sampai rembulan yang
bengong tergoreng matahari
; sebab kalisaja besok pagi
tak ada yang benar-benar abadi
(saat usai dan lampu-lampu rumah mulai mati)
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah singgah)
(Sorry. Puisi Terlalu Pagi Buat Ia yang
Merah Hati)
seperti kemarin pagi
ia yang merah hati mengajak
mataku berenang-renang dengan kenang
sementara aku
meringkuk kaku dipinggir gunting kuku
pagi merah
—yang meringis merah-mengiris
biru-mengiris bisu
; tergores merah di
sudut tulang iga. dekat hati. lebih dekat lagi.
seperti kemarin pagi
—yang merah-yang
berkaca-kaca-yang pecah-pecah-yang mencair-yang mengalir
ia yang merah hati menyanyikan
lagu-lagu
menyihir merah
menelikung ragu-ragu
memeluk sendu seperti
lusinan tahun yang lalu
; hingga tadi pagi aku
mendesau pada angin
hpku tak mau dingin
karena kamu lah mula
dari segala ingin
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah pergi)
Gadis yang Luka
apakabar, gadis yang
luka,
aku ingat kamu tiba-tiba,
sekejap, seperti
kilatan lampu kamera
—yang tak pernah
berhasil mengabadikan kita
aku ingat kamu tiba-tiba,
sesaat, seperti lagu
lama
—yang tak pernah
berhasil menawan kita
tapi apa ingatan yang
sekejap bisa dipercaya:
untuk menciummu
apa ingatan yang sesaat bisa dipercaya:
untuk mencintaimu
Jogja, 2006 —(dari seseorang yang pernah datang)