…ketika aku tak lagi bisa membaca. seseorang yang datang, seseorang yang pergi, seseorang yang pernah singgah, telah diam-diam menuliskan bacaannya di buku harianku. …dan dengan terang kukatakan, bahwa sejenak bersama merekalah aku menemukan sesuatu yang tak terbaca olehku. setelah semuanya datang atau menghilang…
<


I

cast: sebagai matahari

ketika kaupegang tanganku, dalam hujan dan aku menangis,
palu itu terus memukul kepalaku, dengan dengung terus menggaung di telingaku.
kau begitu yakin aku mampu menjadi matahari. besok, pasti baik aku ataupun kau
pergi sebelum pagi. aku melihatmu sebagai bintang di malam kemarin. kita tak
ketemu lagi, nanti

dalam ramai. sama mengulang kembali, kosong. pada lubang
yang menggerogoti mati hati. dan bicara kadang tak pernah sempurna. aku luput
memaknaimu. sebuah peran dipilih sebagai bintang dan matahari

sampai hujan terus membuat pelangi. aku tak ingin menjadi
matahari

 

II

cast: sebagai bintang

ketika daun-daun subuh luluh mengetuk-ngetuk jendelamu, aku
menyelinap dalam gemetarmu. gema itu terus memaksa mempurukkan kepalaku di
dadamu. hingga puting susumu yang kecil menelesapkan gelisahmu yang dalam ke
mulutku. kejora.

tak pasti apakah bisa kuberikan seluruh cahaya yang kumiliki
sebelum pagi. aku hanya kepingin melihat matahari. dan aku mati. bintang kehilangan
terang

sementara hujan membuat pelangi. aku tetap memandangmu
sebagai matahari

 

Jogja, 2005 —(by:
hindra)

July 31st, 2008 at 10:43 am