ngobrol
:setya
rini
saat
huruf-huruf dan tanda baca berloncatan meruangi kepala.
kamu
sedang bernyanyi
kata-kata
bertanggalan satu-satu tak ada yang pecah atau patah
sempurna
menyelusup di bibirmu.
malam
terangkai rapi menjadi deretan kalimatku-kalimatmu.
jarum
jam dinding berubah berbalik arah saat hendak kubanting.
sebentar
kemudian di dapur itu
segelas
air mancur dari pergelangan tanganmu lalu nafasmu menabur puisi di beranda
kutunggu
pagi tumbuh di mataku-di matamu.
siapa
yang duluan menjadi matahari?
Jogja,
Okt 2006, —-(by: Andy SW)
…trims ya Ndi, akhirnya dengan semangat kita bertiga newsletter skAnA udah bisa seperti sekarang. Edisi 07 euy, dan bentar lagi kita bikin yang online. Yuhuu..!
Jadi inget wara-wiri yang kamu, aku, dan Mamad lakukan di sesela malam dan liputan. Ya, makasih juga sama vespa bututmu itu. Hehe..
…dan puisimu ini kamu bikin saat pertama kalinya kita ngobrol di beranda. Yang lalu kamu berikan pagi-pagi. Awal percakapan dan perdebatan kita yang terus berlanjut. Haha.. Sip Ndi, trims atas kerjasamanya, kamu rekan kerja yang ulung. Sampai ketemu di meja redaksi ya, Bung! Semangat yaw… Jaga diri baik-baik ya… Bravo!