Currently browsing posts found in September2008
aku masih sempat menyanyikan lagumu. naif, seperti kita. ku ulang-ulang kata-katamu, kemarin dan hari ini. mungkin tak akan ada lagi wajahmu. mungkin tak akan ada lagi wajahku. di matamu yang seperti cahaya. saat angin menyentuh daun, begitu deras, mengeringkan sisa embun dalam kenanganku.
tetapi kamu masih membiarkan segalanya menggantung, seperti subuh yang abadi. meletakkanku pada jalan-jalan basah, [...]
Posted at: September 27th, 2008 - 11:51 pm - Number of Comments » 2
kupu-kupu dalam kepalaku tak ingin terbang
tak seperti kupu-kupu di kepala mereka
; kepalaku kepompong yang hangat
kupu-kupuku tak ingin merajut sayap
membeku dan mengumpul jadi sengat
di kepala,
bergerombol seperti ingin jadi rengat
ma, pecahkan kepalaku!
agar kupu-kupuku terbang
seperti yang lain
: rajutkan sayap-sayap kecil,
dan jahitkan pada punggungnya!
berikan pedih agar lekas besar
tumbuhkan bulu-bulu perasa
hingga tahu tentang cuaca [...]
Posted at: September 20th, 2008 - 5:45 pm - Number of Comments » 0
aku terhanyut engkau berkali-kali
lumpur kering yang retak
tempat mekar mawar merah mudamu, ayah
muasal cinta,
lembab. geliat tak kasat. pekat
ruang mengikatku begitu dalam
memikat! ketika tiba-tiba Kala mencuat
ini cinta? tapi hanya yang senyap berdiam
apa ayah tahu?
cinta kuberikan sebagai perawan
waktu menghantu di sudut-sudut pintu
lonceng gereja menghentikanku untuk bepergian
dan katamu, bercintalah [...]
Posted at: September 20th, 2008 - 5:42 pm - Number of Comments » 0
1
tak ada apa-apa pagi ini
itu saja yang bisa kukatakan kepadamu
jangan paksa, sebab tak ada apa-apa
lantai begitu dingin, aku enggan berjalan-jalan
salahnya, kita samasama memilih mengikis ingatan—sampai habis
2
kamu boleh lupa
tapi kita adalah satu silsilah dalam keluarga,
ingatkah sepenggal cerita yang kutulis di belakang pintu:
kubelikan eskrim yang penuh krim, kau mau?
bersama seorang babu—yang sintal—yang sepenuhnya tak kukenal
tak [...]
Posted at: September 20th, 2008 - 5:19 pm - Number of Comments » 0
aku menangis.
semua orang tau itu. tapi mereka nggak tau sejak kapan, dan sampai kapan.
aku saja nggak tau.
mungkin sejak laki-laki itu pergi, mungkin sejak laki-laki itu kembali.
dulu ia begitu mengganggu. tapi kepergiannya ternyata lebih mengganggu.
aku keliru.
aku tak bisa tidur. tak ada acara yang menghibur.
parahnya, aku tak bisa menuliskannya.
diariku kosong.
kosong…
Posted at: September 20th, 2008 - 5:05 pm - Number of Comments » 0