aku masih sempat menyanyikan lagumu. naif, seperti kita. ku ulang-ulang kata-katamu, kemarin dan hari ini. mungkin tak akan ada lagi wajahmu. mungkin tak akan ada lagi wajahku. di matamu yang seperti cahaya. saat angin menyentuh daun, begitu deras, mengeringkan sisa embun dalam kenanganku.
tetapi kamu masih membiarkan segalanya menggantung, seperti subuh yang abadi. meletakkanku pada jalan-jalan basah, di tengah kesegaran cinta dan dunia. “Jangan menangis, aku hanya tidur,” katamu lirih, setiap kali keramaian tak dapat menyentuh kita.
dimana engkau, dimana aku. tak ada ruang dan waktu untuk saling meniadakan. sebab kapan saja dan dimana pun kau berada, aku masih dapat terus membacamu, dalam kenanganku. dan lewat kenanganku, kau akan masuk berulangkali: menyamarkan luka-luka sepanjang hidupku.